Jumat, 22 Juli 2011

"Unjuk Rasa Bukan Budaya Kuansing"

TELUK KUANTAN-Pihak-pihak yang dirugikan untuk menyelesaikan persoalan, dan mendapatkan solusi yang baik, jangan melalui unjuk rasa. Pasalnya, unjuk rasa tersebut bukan budaya masyarakat Kuantan Singingi. Hal itu dikatakan Sekretaris Daerah Kabupaten H Zulkifli dalam sambutannya pada pelantikan pengurus Serikat Pekerja Kuantan Singingi Bersatua (SP-Kuansi Bersatu) di gedung Kesenian Narosa Teluk Kuantan, Rabu (21/7).
Disebutkannya, adanya benturan kepentingan dan tuntutan terhadap hak, bisa terjadi antara pekerja dan perusahaan. Apabila ada masalah antara pekerja dengan perusahaan hendaknya dikomunikasikan dulu.
Bila sudah dikomunikasikan ternyata tidak ada solusi (mentok). Pemerintah berusaha memfasilitasinya.
"Jangan biasakan melakukan unjuk rasa. Kalau ini dibiasakan, inilah yang dinamakan mau menang sendiri. Jika dikomunikasikan dengan baik akan memberikan jalan penyelesaian secara jelas," katanya.
Peran pemerintah sudah jelas, yakni berkewajiban menjadi fasilitator ketika permasalahan tersebut tak bisa diselesaikan kedua belah pihak setelah melakukan langkah komunikasi yang baik. hir

sumber : http://www.riaumandiri.net

Kamis, 14 Juli 2011

PACU JALUR RANTAU KUANTAN SINGINGI

Pacu Jalur adalah sejenis lomba dayung tradisional khas daerah Kuantan Singingi (Kuansing) yang hingga sampai sekarang masih ada dan berkembang di Propinsi Riau. Lomba dayung ini menggunakan perahu yang terbuat dari kayu/batang/pepohonan besar/gelondongan yang disebut oleh masyarakat sekitar  jalur. Upacara adat khas daerah Kuansing ini diselenggarakan setiap satu tahun sekali untuk merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, tepatnya pada tanggal 23—26 Agustus. Panjang perahu/jalur yang digunakan dalam lomba ini berkisar antara 25—40 meter dengan jumlah atlet 40—60 orang tiap perahu. festival ini diikuti oleh ratusan perahu dan melibatkan beribu-ribu atlet dayung, serta dikunjungi oleh ratusan ribu penonton baik wisatawan domestik maupun mancanegara.